Ini adalah tulisanku pada 14 November 2011 lalu, sehari setelah PAB tahap 1 dilaksanakan. Sesaat setelah aku harus menerima berbagai sudut hati yang penyok-penyok.
Akhirnya sampai juga aku pada program kerjaku yang harus tertunai sebanyak dua kali pelaksanaan dalam satu periode kepengurusan. PAB, demikian aku dan rekan-rekan pengurus menyebutnya. PAB merupakan kependekan dari Pelantikan Anggota Baru, istilah lain dari Ospek atau OMB (Orientasi Mahasiswa Baru). Berbeda dengan tahun sebelumnya ketika aku baru menjabat sebagai Kepala Bidang I, melaksanakan PAB dalam satu kali akhir pekan selama 2 hari, tahun ini acara tersebut dilaksanakan kembali dalam 2 kali akhir pekan setiap hari minggu.
Terlalu banyak rasa sakit, pahit dan juga kekecewaan selama aku berada dalam kegiatan tersebut, yang telah kuikuti sebanyak 4 kali (1 kali sebgai peserta, 1 kali sebagai panitia dan 2 kali sebagai penyelenggara, termasuk saat ini). Rasa itu kerap datang dari berbagai pihak, penyelenggara dan panitia (saat aku menjadi peserta), kepada penyelenggara dan peserta (saat aku menjadi panitia) dan kepada panitia dan peserta (saat aku menjadi penyelenggara).
Pulang ke kampung Pendidikan Biologi, menerima permintaan untuk menjadi pengurus di HMPSPB “Lumba-Lumba”, meninggalkan kesempatan gemilang menjadi pengurus di tempat lain dengan posisi dan fasilitas yang jauh lebih menggiurkan dan melengkapi, jelas merupakan keputusan terburuk yang pernah kuambil. Namun aku bertekad semua akan baik-baik saja. Aku mencoba menyadari apa yang dibilang Alief, Diana, Trio dan Fika (Rachmita) bahwa mereka membutuhkanku. Aku pun pulang dengan harapan bisa semakin memperkuat formasi kami, aku pulang demi asa bahwa berada bersama mereka akan membuat aku lebih bahagia daripada yang aku rasakan di tempat lain. Tentu saja harapan sangat besar mengingat aku bisa terus bersama dengan sebagian besar teman-teman sekelasku yang berada dalam kepengurusan.
Aku merasakan godaan yang begitu menggiurkan sejak awal menjadi pengurus, kesolidan, kebersamaan, kebergotongroyongan dan sebagainya. Aku sangat bersuka cita. Namun ternyata itu hanyalah godaan sesaat. Aku harus tau bahwa di balik semua itu aku harus merasakan racun. Ada madu yang menyelubungi setiap racun yang siap menggelontorkan setiap timbunan kepercayaan, kasih sayang dan penerimaan menjadi sampah-sampah yang berserakan tidak pada tempatnya. Ada duri yang menusuk terlalu dalam di hati ini setelah aku menyadari bahwa mereka, beberapa di antara mereka tak pernah ada. Beberapa di antara mereka serupa hantu, datang hanya untuk mewas-waskan diri.
Sebagai Kepala Bidang I, program kerjaku membuat seluruh orang mendadak menjadi sibuk, menjadi banyak kegiatan di HMP. Kata para penonton, sudah banyak perubahan yang kami lakukan, banyak terobosan yang dilakukan oleh kami sebagai pengurus. Ada kebanggaan dan juga rasa sakit setelah mendengar semua itu. Bahagia, karena aku mampu melakukan sesuatu untuk HMP ini. Tapi aku sedih karena tidak semua orang, bahkan dari pengurus sendiri mampu menganggap bahwa semua itu adalah usaha. Lebih sakit lagi ketika mereka hanya bisa bicara bhawa semua itu salah, semua itu tidak tepat, tanpa bisa turut andil. Mereka hanya datang ketika diberitahu. Jarang ada yang datang karena sadar bahwa mereka adalah pengurus HMP.
Kadang aku merasa bahagia jika ada orang yang mau mengkritik dan mengingatkanku. Tapi justru itu menjadi sebuah kekecewaan ketika mereka hanya bisa mengingatkan tanpa pernah tahu apa yang telah aku lakukan, terlebih lagi mereka bilang itu salah hanya karena informasi dari mereka yang bersalah. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana mengorbankan seluruh waktu istirahatku untuk mendampingi panitia dan kegiatan. Siapa yang ada di sisiku saat aku mendampingi mereka mendekor ruangan persiapan PAB hingga larut malam??? Tidak ada!! Aku bahkan harus minta tolong kepada pihak selain pengurus dengan segunung malu. Aku tidak mengerti kenapa ini begitu susah.
Sebagai peserta PAB 3 tahun silam (tahun 2008), aku kecewa teramat sangat kepada seluruh panitia PAB, Mas Andi dkk. Aku bukan tipe orang yang antipati terhadap suatu kegiatan. Tapi aku bukan orang yang hanya sekali itu menjadi peserta sebuah acara dan juga bukan orang yang hanya menjadi peserta. Jadi jika tidak ada informasi yang jelas, wajar aja bila aku bertanya dan mungkin juga enggan melaksanakan perintah. Seperti halnya makan, aku harus memastikan bahwa yang aku makan itu benar-benar makananku. Panitia terdahulu jarang sekali memberikan kejelasan informasi, bahkan terkesan menjauh dari peserta. Aku merasa sadar bahwa itu sama sekali bukan upaya melakukan komunikasi yang baik. Dan itulah yang dianut oleh beberapa teman seangkatanku saat ini, sulit merangkul pihak-pihak yang berbeda. Pada saat dikritik, atau diberi tahu, yang ada hanyalah ucapan, “Senja sok tau!” Bagaimana aku tidak tau, aku pernah mengalami yang mereka alami dan bahkan yang belum mereka alami. Berbicara kekecewaan terhadap panitia tadi, aku mendadak kehilangan rasa hormat bahwa mereka saudara tertua di keluarga besar Pendidikan Biologi ini. Dan lupalah aku pada keinginan untuk lebih menghargai mereka. Siapa pun bisa dihormati jika dia layak untuk dihormati. Dan aku tidak merasa bahwa beberapa di antara mereka layak untuk dihormati. Sedih banget. Semua mendadak memaksakan diri untuk dihormati.
Sebagai panitia (tahun 2009), jelas aku kecewa teramat sangat kepada penyelenggara, kepada HMP. Mereka dengan seenak perut membuat acara dalam acara tanpa koordinasi dengan panitia. Panitia pun kelimpungan. Aku dan teman-teman sebagai panitia yang telah dikecewakan saat menjadi peserta, merasa bahwa kekecewaan itu tidak perlu berulang. Akhirnya kami membuat terobosan dalam banyak hal, membuat surat ijin kepada orang tua mahasiswa, membuat surat penarikan dana dengan rincian dana yang jelas, membuat form riwayat penyakit dan alergi dari Maba, serta berbagai kegiatan yang tidak memberatkan Maba. Namun apa yang dilakukan oleh penyelenggara jelas merusak apa yang telah kami usahakan dengan sangat keras. Dengan kondisi Maba yang jauh berbeda dari segi ketahanan fisik dibandingkan angkatan kami, para senior masih saja memperlakukan mereka sebagai orang kuat. Rusaklah acara. Dalam insiden yang sebetulnya hanya rekayasa dari para senior itu, terdapat fragmen bahwa panitia dimarahi oleh HMP dengan alasan panitia tidak becus dan kerap membiarkan peserta bermanja-manja. Sebetulnya dalam insiden tersebut, yang rusak citranya di depan Maba adalah HMP. Tapi sebagai warga dari mereka aku merasa sedih juga kalau HMP mendadak menjadi tidak bermakna bagi Maba.
Sebagai penyelenggara (tahun 2010), aku kecewa, benar-benar kecewa pada beberapa pengurus, alumni pengurus, beberapa panitia dan sebagian besar peserta. Kekecewaan terhadap peserta terjadi ketika mereka sama sekali tidak respect pada panitia. Mereka menolak untuk meminta tanda tangan, menolak untuk membawa atribut dan mereka juga tidak datang tepat waktu. Sedih banget. Namun pada hari setelahnya mereka telah mengikuti kegiatan dengan baik. Dan itu sudah tidak menjadi masalah bagiku, tapi masalah bagi sebagian besar pengurus HMP dan masalah bagi para senior yang mendadak datang tanpa diundang. Para pengurus HMP dan senior HMP menganggap bahwa peserta terlalu over dan panitia tidak tegas. Kata mereka, “penyakit itu harus dibasmi”. Dan mereka justru tidak pernah memikirkan pestisida apa yang pantas mereka gunakan untuk beragam jenis penyakit dan hama. Akibatnya, sudah bisa ditebak apa yang terjadi....”susah sekali mendapat kepercayaan dari 2010, bahkan hingga di detik ketika ku menulis semua ini.” Kadang ada proses transformasi yang salah. Aku sebetulnya menjadi serba ragu untuk melangkah. Di satu sisi, aku harus melalui berbagai episode untuk sampai pada scene terakhir. Tapi di sisi lain, aku harus mengajak serta mereka yang tidak hanya on, tapi juga dalam off-nya. Kadang aku mencoba mengajak serta dengan konsep yang kutawarkan, tapi kemudian beberapa tidak mampu dan aku sama sekali tidak mengharuskan mereka ikut 100%. Aku pun berbesar hati mengikuti apa yang mereka tawarkan. Then, apa yang terjadi, ketika tawaran mereka akan dilaksanakan, tidak ada mereka disana. Aku jadi ragu harus percaya pada mereka saat itu atau tidak.
Kembali kepada pelaksanaan PAB 2010 aku akhirnya tahu kenapa peserta tidak menaruh respect pada peserta.... namun itu mungkin tidak perlu kutuliskan disini. Akan ada banyak hati yang terluka. Yang terpenting bagiku adalah bagaimana memperbaiki yang pernah rusak dan meluruskan yang pernah bengkok. Aku tidak menyimpan dendam. Mereka sudah menjadi bagian dariku, sudah selayaknya mereka mendapat hak yang sama dengan yang lain, yaitu didikan dan bimbingan. Namun tidak semua berpikiran demikian. Aku harus sabar dan mengerti, tidak semua di antara aku dan yang lain memiliki porsi dan proses belajar yang sama. 2010 telah kuanggap berusaha memperbaiki citra mereka di depan kami dan bagiku mereka layak diapresiasi dan didukung.
PAB 2011 kembali membuatku kecewa. Terlalu banyak elemen yang kembali membuatku kecewa, beberapa panitia, banyak pengurus dan peserta. Beberapa panitia, satu dua orang panitia lalai tanggung jawab... banyak pengurus yang banyak sok tau dan datang untuk marah saja. Pengurus yang kumaksud adalah mereka yang bahkan tidak pernah ikut membenahi persiapannya.... mereka yang hanya melihat sekilas saja, ada beberapa pengurus yang seharusnya bertanggung jawan langsung karena memang tugasnya justru tidak menampakkan diri, SC yang kutunjuk tidak menunjukkan kinerja layak dan baik. Heeeemmm.... Namun aku mendadak tidak tau harus bagaimana bertindak terhadap mereka... jika aku berkata sedikit saja, aku khawatir mereka akan menampakkan softskill mereka, mudah tersinggung. Jika itu terjadi, maka aku tidak akan pernah baik menurut mereka. So, aku harus sabar, bukan untuk menyelamatkan citraku di mata mereka, tapi untuk menjaga keutuhan. Kudengar saja apa yang ingin mereka bicarakan... itu saja cukup.
Peserta, ada satu tindakan anarkis yang mereka lakukan dan aku sangat kecewa. Aku paling tidak suka dengan kecurangan dan mereka melakukannya di depan mata. Mereka memalsukan tanda tangan dengan sengaja. Aku pun harus angkat bicara menyampaikan kekecewaan dan sanksi. Yah, semoga itu tidak pernah terjadi kembali....untuk ke depannya.
Aku selanjutnya hanya mampu bersyukur karena 98% setelah itu mereka mampu kembali menjalankan fungsi mereka dalam koridor yang ada.
Terlepas dari apa yang telah terjadi, aku telah menyusun sendiri raport mereka, masing-masing. Sehingga aku punya referensi untuk investasi kepsercayaan.
Aku hanya ingin berterima kasih kepada Alief Kurniawan, Ratna Sari Dewi, Winda Anisfiani, Febriana Dwi, Bee, Linda Halimatus, Hadi Wijyaya dan Zukhruf ‘Amim’, yang telah selalu ada membantu dan mendukung selama PAB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar